Bismillahirrahmanirrahiim.
Pagi ini, saya duduk di beranda rumah dengan secangkir kopi hangat di tangan kanan. Sambil menatap hijaunya tanaman hias di halaman rumah, pikiran saya melayang jauh. Saya teringat akan perjalanan hidup yang semua orang akan lalui, sebuah kisah universal tentang pencarian yang tak berujung dan dahaga yang seolah tak pernah terpuaskan.
Bayangkan sejenak, kawan.
Pernahkah Anda melihat seseorang yang terus-menerus meminum air laut di tengah panasnya gurun pasir? Aneh, bukan? Tapi itulah gambaran yang terlintas di benak saya ketika memikirkan bagaimana kita mengejar dunia. Semakin banyak dia minum, bukan kesegaran yang dia dapat, melainkan rasa haus yang semakin menjadi-jadi.
Paradoks ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah Arab yang sangat mendalam:
“طَالِبُ الدُّنْيَا كَشَارِبِ مَاءِ الْبَحْرِ كُلَّمَ ازْدَادَ شُْربًا ازْدَادَ عَطَشًا”
Artinya, “Orang yang mengejar dunia itu seperti orang yang meminum air laut, semakin banyak dia minum, semakin bertambah rasa hausnya.”
Sungguh, kata-kata ini meresap jauh ke dalam sanubari saya.
Mari kita renungkan bersama, berapa kali dalam sehari kita berkata dalam hati, “Ah, andai saja aku punya mobil yang lebih bagus” atau “Seandainya aku bisa liburan ke luar negeri”.
Saya sendiri sering terjebak dalam pikiran-pikiran seperti ini. Kita terus mengejar, terus mencari, layaknya hamster yang berlari di dalam roda putar – bergerak tapi tak pernah sampai ke tujuan. Pertanyaannya, pernahkah kita benar-benar merasa cukup?
Pengalaman pribadi saya mungkin tak jauh berbeda dengan Anda. Dulu, ketika masih kuliah, saya berpikir bahwa kebahagiaan akan datang saat saya mendapat pekerjaan. Lalu ketika sudah bekerja, saya merasa akan puas jika mendapat promosi. Setelah promosi didapat, timbul keinginan untuk memiliki rumah sendiri.
Dan begitu seterusnya, semakin banyak keinginan-keinginan yang timbul dalam hati, bagaikan lingkaran setan yang tak berujung. Semakin banyak yang saya dapatkan, semakin banyak pula yang saya inginkan. Seperti makan di restoran all-you-can-eat, perut sudah kenyang tapi mata masih lapar melihat hidangan lain.
Namun, dalam perjalanan hidup ini, saya menemukan sesuatu yang menarik.
Sekedar disclaimer, ini bukan soal kaya atau miskin. Saya pernah bertemu dengan seorang pengusaha sukses yang hidup sangat sederhana. Di rumahnya yang besar, dia hanya menggunakan satu kamar, sementara kamar lainnya dia sumbangkan untuk anak yatim. Di sisi lain, saya juga pernah mengenal seorang pemulung yang selalu bermimpi tentang kemewahan, yang hidupnya dipenuhi dengan angan-angan tentang harta berlimpah. Sungguh, bukan soal apa yang kita miliki, tapi bagaimana cara kita memandang dan menyikapinya.
Masalahnya, kita ini manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Ada kalanya, kesadaran kita akan Allah bisa turun drastis, seperti sinyal ponsel yang tiba-tiba hilang di daerah terpencil. Kita gampang tergoda oleh kilauan dunia, mudah lupa akan tujuan sejati hidup ini, dan yang paling berbahaya, kita jago dalam mencari-cari alasan untuk membenarkan diri sendiri. “Ah, tidak apa-apa lah sekali-sekali berfoya-foya, toh rezeki dari Allah,” begitu sering kita berdalih.
Tapi jangan putus asa, kawan!
Justru karena kita sadar akan kelemahan ini, kita bisa bersyukur dan terus memperbaiki diri. Bersyukur karena Allah masih menyertai kita dalam segala kondisi. Baik saat kita berada di puncak kesuksesan maupun di lembah kegagalan, baik saat jalan hidup kita lurus mulus maupun penuh tikungan tajam. Bukankah itu bentuk kasih sayang-Nya yang tak terbatas?
Jadi, bagaimana? Sudahkah kita memiliki kesadaran seperti itu?
Kalau sudah, yuk kita sama-sama berusaha untuk tidak terlalu rakus ‘meminum air dunia’ ini. Mari kita latih diri untuk merasa cukup, untuk lebih fokus pada apa yang kita miliki daripada apa yang belum kita capai. Ingatlah selalu bahwa rasa syukur adalah kunci kebahagiaan sejati.
Akhir kata, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar kita bisa bersyukur dan berbagi dengan sesama. Harta, tahta, bahkan cinta manusia, semuanya hanyalah titipan sementara. Yang abadi hanyalah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Mari kita jaga hati kita agar tetap tertuju pada Yang Maha Pemberi, bukan semata pada pemberianNya.
Semoga renungan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya saya sendiri, untuk terus menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan dunia ini. Karena pada akhirnya, kepuasan sejati hanya akan kita temukan saat kita kembali kepada-Nya.